-->

Tes Spesifik Shoulder (Bahu) Pada Pemeriksaan Fisioterapi

Tes spesifik shoulder (bahu) merupakan salah satu tes spesifik bahu yang dijalankan pada pemeriksaan fisioterapi. Tes spesifik pada regio bahu terdiri dari :

  • Acromioclavicular (ac) joint compression test
  • Acromioclavicular (ac) joint distraction test
  • Adson's maneuver
  • Allen's test
  • Apley's scrath test
  • Apprehension test (anterior dan posterior)
  • Brachial plexus stretch test
  • Crossover Impingement test
  • Drop arm test
  • Empty can (supraspinatus) tets
  • Grind tets
  • Neer impingement test
  • O'brien test
  • Piano key sign
  • Roos test
  • Speed's test
  • Sternoclavicular (sc) joint stress test
  • Sulcus test
  • dan Yergason test


Namun sebelum lebih lanjut membaca, artikel ini akan membahas mengenai tes spesifik shoulder (bahu) pada pemeriksaan fisioterapi. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bahasan tes spesifik ini silahkan simak yang telah tersaji di bawah ini.

Baca Juga : Pemeriksaan Tes Spesifik Shoulder Tendon Test

Tes spesifik shoulder (bahu) merupakan salah satu tes spesifik bahu yang dijalankan pada pemeriksaan fisioterapi. Tes spesifik pada regio bahu terdiri dari acromioclavicular (ac) joint compression test, acromioclavicular (ac) joint distraction test, adson's maneuver, allen's test, apley's scrath test, apprehension test (anterior dan posterior), brachial plexus stretch test, crossover impingement test, drop arm test, empty can (supraspinatus) tets, grind tets, neer impingement test, o'brien test, piano key sign, roos test, speed's test, sternoclavicular (sc) joint stress test, sulcus test, dan yergason test.
Tes Spesifik Shoulder (Bahu) Pada Pemeriksaan Fisioterapi

Tes Spesifik Shoulder (Bahu) Pada Pemeriksaan Fisioterapi


1. Acromioclavicular (AC) Joint Compression Test

Acromioclavicular (AC) Joint Compression Test (uji kompresi sendi akromioklavikular). pemeriksaan ini dilakukan dengan subjek didudukkan dan lengan rileks pada satu sisi, pemeriksa menempatkan satu tangan pada klavikula dan yang lainnya pada spina skapula. Pemeriksa secara lembut mengguncangkan tangan secara bersamaan, amati adanya pergerakan pada sendi AC. Nyeri dan/atau pergerakan pada kalvikula adalah positif, mengindikasikan ligamen AC dan/atau korakoklavikular terkilir.

2. Acromioclavicular (AC) Joint Distraction

Acromioclavicular (AC) Joint Distraction (uji distraksi sendi akromioklavikular). Pemeriksaan ini dilakukan dengan subjek duduk dan tangan pada pangkuannya, pemeriksa dengan lembut memberikan tekanan ke bawah pada lengan, amati semua pergerakan pada sendi AC. Nyeri dan/atau pergerakan skapula inferior ke kalvikula adalah positif, mengindikasikan AC dan ligamen korakoklavikula terkilir.


3. Adson's Maneuver

Adson's Maneuver (perasat Adson), pemeriksa menempatkan jaringan di atas arteri radial (secara distal). Rotasi secara eksternal dan ekstensi lengan subjek dan kemudian minta subjek untuk mengekstensi dan merotasi leher ke arah lengan yang diperiksa dan ambil napas dalam. Penurunan atau tidak adanya nadi radial adalah indikasi sindrom gerbang toraks, secara sekunder menekan arteri subklavia oleh otot skalene.

4. Allen's Test

Allen's test (uji alllen) dilakukan dengan subjek diminta untuk menggunakan satu tangan dan menyentuh bahu yang berlawanan. Ulangi pada sisi yang lainnya. Hasil asimetris dari kedua sisi adalah positif. Ketidakmampuan untuk menyentuh bahu yang berlawanan mengindikasikan keterbatasan adduksi, rotasi internal, dan fleksi horizontal glenohumeral. Keterbatasan pada protraksi skapula juga menyebabkan hasil asimetris. 

Bagian II: kemudian, subjek diminta untuk mengangkat lengannya ke atas kepala dan pegang belakang leher, seperti ketika menggaruk punggung atas. Gerakan ini diulangi pada kedua sisi. Hasil asimetris positif, mengindikasikan keterbatasan abduksi dan rotasi eksternal glenohumeral serta rotasu ke atas dan elevasi skapula. 

Bagian III : Subjek diminta untuk meletakkan tangan di belakang punggung dan gapai ke atas (seperti mengaitkan bra). Tindakan ini diulangi pada sisi yang berlawanan. Hasil asimetris positif dan mengindikasikan keterbatasan adduksi dna rotasi internal glenohumeral serta retraksi dan rotasi menurun skapula.


5. Apprehension Test (Anterior)

Apprehension test (anterior) dilakukan dengan subjek pada posisi telentang dan bahu abduksi 90 derajat. Pemeriksa secara perlahan merotasi eksternal bahu. Tes ini dianggap positif ketika subjek tampak ketakutan atau mengungkapkan ketakutan. Tes ini menyerupai dislokasi anterior sendi glenohumeral.

6. Apprehension Test (Posterior)

Apprehension Test (posterior) dilakukan dengan subjek pada posisi telentang, pemeriksa menempatkan bahu pada posisi fleksi 90 derajat dan rotasi internal, seraya melakukan tekanan posterior melalui aksi panjang humerus. Tes ini dianggap positif ketika subjek tempak ketakukan atau mengungkapkan ketakutan.  Tes ini menyerupai dislokasi anterior sendi glenohumeral.


7. Brachial Plexus Strecth Test

Brachial plexus strecth test, pemeriksaan ini dilakukan dengan subjek pada posisi duduk, pemeriksa memfleksikan secara lateral kepala subjek seraya memberikan tekanan lembut pada bahu. Nyeri menjalar ke bawah lengan pada sisi yang diperiksa merupakan temuan positif tentang keterlibatan plexus brakial.

8. Crossover Impingement Test

Crossover impingement test, dilakukan dengan trunk subjek distabilisasi dan bahunya berada pada posisi fleksi 90 derajat, secara maksimal menahan adduksi melawati dada. Nyeri bahu superior adalah indikasi patologi sendi akromioklavikular. Nyeri anterior adalah indikasi patologi subskapularis, supraspinatus, dan/atau kepala panjang bisep. Nyeri bahu posterior adalah indikasi patologi infraspinatus, teres minor, dan/atau kapsul posterior.


9. Drop Arm Test

Drop arm test, dilakukan dengan cara pemeriksa secara pasif mengabduksi lengan subejek hingga 90 derajat dan kemudian meminta subjek untuk menurunkan lengan secara perlahan ke samping. Jika subjek tidak dapat mengembalikan lengan secara perlahan ke samping dan/atau mengalami nyeri signifikan, pemeriksaan ini mengindikasikan patologi manset rotator.

Tes spesifik shoulder (bahu) merupakan salah satu tes spesifik bahu yang dijalankan pada pemeriksaan fisioterapi. Tes spesifik pada regio bahu terdiri dari acromioclavicular (ac) joint compression test, acromioclavicular (ac) joint distraction test, adson's maneuver, allen's test, apley's scrath test, apprehension test (anterior dan posterior), brachial plexus stretch test, crossover impingement test, drop arm test, empty can (supraspinatus) tets, grind tets, neer impingement test, o'brien test, piano key sign, roos test, speed's test, sternoclavicular (sc) joint stress test, sulcus test, dan yergason test.
Tes Spesifik Shoulder (Bahu) Pada Pemeriksaan Fisioterapi

10. Empty Can (supraspinatus) Test

Empty can (supraspinatus) test, dilakukan dengan lengen subjek abduksi hingga 90 derajat, secara horizontal adduksi 30 derajat, dan rotasi secara internal sehingga ibu jari menghadap ke bawah, pemeriksa menahan usaha subjek untuk mengabduksi secara aktif kedua bahu. Keterlibatan otot supraspinatus dan/atau tendon diduga mengalami kelemahan yang diketahui dan/atau laporan nyeri.

11. Grind Test

Grind Test merupakan tes yang dilakukan dengan cara subjek berbaring telentang dengan bahu abduksi hingga 90 derajat dan siku difleksikan hingga 90 derajat. Pemeriksa memberikan tekanan pada humerus proksimal seraya mengusahakan untuk merotasi kepala humeral 360 derajat di sekitar permukaan foss glenoid. Hasil tes positif menyebabkan sensai memutar atau berbunyi klik, kemungkinan mengindikasikan robekan labrum glenoid.


12. Neer Impingement Test

Neer Impingement Test merupakan tes yang dilakukan dengan cara pemeriksa menempatkan salah satu tangannya pada skapula dan tangan yang lainnya pada siku. Dengan skapula distabilisasi, fleksikan bahu ke depan secara maksimal. Nyeri bahu dan kecemasan adalah indikasi tubrukan supraspinatus dan/atau tendon kepala panjang bisep.

13. O'brien Test

O'brien test merupakan tes yang dilakukan dengan cara subjek menempatkan bahu pada posisi 90 derajat fleksi ke depan, 30 hingga 45 derajat adduksi horizontal, dan rotasi internal maksimal. Subjek mengaduksi secara horizontal dan memfleksikan melawan tahanan manual pemeriksa. Nyeri dan/atau meletus (popping) adalah indikasi lesi anterior-posterior labrum superior.

14. Piano Key Sign

Piano Key Sign merupakan tes yang dilakukan dengan cara pemeriksa memberikan tekanan  pada kalvikula distal subjek pada arah inferior. Pemeriksa dapat menekan klavikula ke posisi tetap normal dan secara berurutan lihat elevasi klavikula kembali saat tekanan dilepaskan. Ini mengindikasikan ketidakstabilan sendi AC.


15. Roos Test

Roos test merupakan tes yang dilakukan dengan cara subjek menempatkan kedua bahunya pada 90 derajat abduksi dan rotasi eksternal, dan siku dalam 90 derajat fleksi dan membuka dan menutup dengan cepat kedua tang selama 3 menit. Ketidakmampuan untuk mempertahankan posisi tes, penurunan fungsi motorik tangan, dan/atau kehilangan sensasi pada ekstremitas atas mengindikasikan sindrom gerbang toraks, sekunder terhadap bahaya neurovaskular.

16. Speed's Test

Speed's test merupakan tes yang dilakukan dengan bahu subjek difleksikan hingga 90 derajat, siku diekstensikan penuh, dan lengan atas supinasi, pemeriksa menahan usaha subjek untuk memfleksikan lengan ke depan secara aktif. Nyeri tekan dan/atau nyeri pada alur bisipital adalah temuan positif yang dapat mengindikasikan tendinitis bisipital.


17. Sternoclavicular (SC) Joint Stress Test

Sternoclavicular (SC) Joint Stress Test merupakan tes yang dilakukan dengan cara pemeriksa memberikan tekanan secara lembut ke bawah dan ke dalam pda klavikula, catata adanya pergerakan pada sendi SC. Nyeri dan/atau pergerakan pada kalvikula mengindikasikan sprain ligamen sternoklavikular, kemungkinan melibatkan ligamen kostoklavikular.

18. Sulcus Sign

Sucul sign merupakan tes yang dilakukan dengan subjek duduk dan tangannya dipangku, pemeriksa menstabilisai skapula dan memberikan tekanan (distraksi) inferior pada siku. Translasi humeral inferior berlebih dengan deformitas "sulkus" yang dapat dilihat dan/atau dipalpasi ("step-off") dekat secara inferior terhadap akromion (secara lateral) adalah indikasi ketidakstabilan multidireksional.

19. Yergason Test

Yergason test dilakukan dengan subjek pada posisi dududk, siku difleksikan hingga 90 derajat (distabilisasi terhadap toraks), dan pronasi lengan atas, pemeriksa menempatkan salah satu tangan di sepanjang lengan atas dan tangan lainnya pada bagian atas humerus (dekat dengan alur bisipital). Pemeriksa menahan usaha untuk supinasi lengan atas dan rotasi humerus secara eksternal. Nyeri yang dilaporkan pada area alur bisipital adalah temuan positif yang dapat mengindikasikan tendinitis bisipital.



Nah itu dia bahasan tes spesifik shoulder (bahu) pada pemeriksaan fisioterapi. Dari bahasan diatas bisa diketahui mengenai tes spesifik bahu (shoulder) yang terdiri dari acromioclavicular (ac) joint compression test, acromioclavicular (ac) joint distraction test, adson's maneuver, allen's test, apley's scrath test, apprehension test (anterior dan posterior), brachial plexus stretch test, crossover impingement test, drop arm test, empty can (supraspinatus) tets, grind tets, neer impingement test, o'brien test, piano key sign, roos test, speed's test, sternoclavicular (sc) joint stress test, sulcus test, dan yergason test. Mungkin hanya itu yang bisa disampaikan dalam artikel ini, mohon maaf bila terjadi kesalahan dalam penulisan, terimakasih telah membaca artikel ini."God Bless and Protect Us"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel